Finally Museum Batik Yogyakarta

Mengunjungi museum mungkin jadi salah satu kesenanganku kali ini, terutama jika berkaitan dengan kebudayaan Indonesia. Salah satu museum yang membuatku curious sejak tahu plang tulisannya adalah Museum Batik yang ada di Yogyakarta. Ya! Awalnya aku memang hanya tahu jika ada sebuah museum yang dinamakan Museum Batik bertempat di daerah Bausasran atau bagiku lebih mudah mengingatnya dengan 'jalan yang ada di selatan jembatan Lempuyangan', tapi karena letaknya meragukan jadi aku tidak pernah mengunjunginya sampai beberapa hari yang lalu. 

Seperti yang aku sampaikan tadi, bahwa museum ini letaknya meragukan meskipun sudah ada plang yang menunjukkan letak museum tapi ada keraguan ketika ada juga plang bertuliskan Hotel Museum Batik. Selain itu, plang yang bertuliskan petunjuk letak museum mengarah pada sebuah rumah. Padahal seharusnya mengarah pada jalan kecil ke barat tempat museum dan hotel itu berada. Nah! Dari penjelasanku saja membingungkan, bukan? :D  Sudahlah, yang jelas akhirnya aku sampai juga di museum ini.

 

Ekspetasi awal sebelum aku datang adalah museum ini berupa bangunan layaknya museum kebanyakan. Namun, kenyataannya adalah bangunan museum ini lebih seperti sebuah rumah. Setelah menginjakkan kaki di depan museum, aku dan suami disambut seorang ibu-ibu --yang aku lupa menanyakan namanya-- yang merupakan penerima tamu sekaligus guide pengunjung museum. Kami diarahkan untuk mengisi buku tamu dan aku yang dengan bodohnya diam saja ketika ibu itu mengisyaratkan untuk membayar tiket seharga Rp15.000,-/orang. Akhirnya suami yang berinisiatif membayarnya.. Hehe.. 

Setelah membayar, pintu atau sejenis pagar yang menutupi museum batik ini dibuka dan lampu dihidupkan. Ya! Meskipun di dalam ruangan, pengelola museum memasang pagar masuk ke dalam museum dan sengaja mematikan lampu museum jika tidak ada pengunjung. Jujur, aku sangat menyayangkan keadaan museum yang sangat sepi pengunjung dan terlihat kurang 'museum'. Mungkin karena museum ini sebenarnya adalah kumpulan koleksi pribadi dari pendirinya, yaitu ibu Dewi Sukaningsih dan suaminya bapak Hadi Nugroho. Selain itu perawatannya pun tidak dicampuri tangan oleh pemerintah, jadi benar-benar tidak terkesan seperti sebuah museum. Namun, koleksi museum ini memang benar-benar lengkap dari macam-macam batik pesisir, solo, Yogyakarta, Semarang, Pekalongan, dan sebagainya bahkan ada satu koleksi batik yang tertua, yaitu batik yang berusia sekitar 313 tahun. Ya! Batik tahun 1700-an ada di sini dan masih terlihat sangat bagus meskipun ada dalam gulungan dan tidak bisa aku perlihatkan karena pengelola melarang pengunjung untuk memfoto koleksi museum.

Selain koleksi batik, ada juga alat cap motif batik zaman dulu. Ada berbagai macam alat cap motif batik terbuat dari tembaga yang disimpan di museum ini. Peralatan membatik seperti macam-macam canting pun ada di sini. Betapa seharusnya orang Indonesia perlu tahu adanya museum ini, tapi sayangnya tidak banyak yang berminat untuk mengunjungi museum apalagi terfikir mengunjungi museum batik yang satu-satunya ada di Indonesia ini. 

Aku dan suami pun berkesempatan bertemu dengan pemilik museum, yaitu ibu Dewi yang saat ini berusian sekitar 84 tahun dan masih cukup sehat serta senang hati menyambut kami. Kami mengobrol tentang awal berdirinya museum dan harapan-harapan beliau untuk kelestarian batik serta museum ini. Baginya, tidak masalah jika harus mengeluarkan uang sendiri untuk biaya pengelolaan museum asalkan dia senang karena masih bisa melestarikan batik dan mempertahankan koleksinya tetap di museum bukan dimiliki kolektor luar negeri. Aku benar-benar kagum dengan beliau, tapi sayang tidak bisa berfoto karena ibu Dewi tiba-tiba kedatangan tamu. Huuftt...

Komentar

Postingan Populer