First


Tuk.. tuk.. tuk..
Bulan  mengetuk-ngetukkan sepatunya di aspal jalanan depan rumah tempatnya menunggu bapak-bapak yang akan menjemputnya untuk berangkat ke sekolah. Beberapa menit kemudian datang seorang bapak dan seorang anak laki-laki yg duduk bertengger di bagian tank motor, memandang lurus ke depan tanpa memperdulikan Bulan.

"Dek Bulan, kamu duduk di belakang ya. Radit tidak mau pindah nih," ucap Pak Thamrin lagi-lagi sembari tersenyum padaku dan aku hanya mengangguk lalu naik dengan susah payah ke jok belakang motor Pak Thamrin.

***

Saat Taman Kanak-kanak sampai Sekolah Dasar, aku hanyalah seorang gadis kecil yang berperawakan kurus dan berambut panjang sepinggang. Entah kenapa bisa sepanjang itu, tapi memang Ibuku sangat menyukai rambut panjangku itu. Meski akhirnya menyerah juga melarangku memotongnya ketika aku duduk di kelas 6 Sekolah Dasar. Aku adalah tipe anak perempuan yang pendiam dan pemalu. Bahkan, untuk tersenyum pun rasanya sulit karena aku selalu takut dengan orang yang baru saja kukenal. Hanya Ibuku yang benar-benar mengetahui senyumku dan selalu memanggilku 'putri manis' dan memelukku jika aku tersenyum.

"Bulan Anindita!" Bu Asti memanggilku
Aku mengacungkan tangan kemudian menurunkannya kembali setelah Bu Asti memanggil nama lainnya.
"Raditya Ramadhan!"
Radit mengacungkan tangan dan menjawab, "Hadir Bu!"

Entah kenapa aku selalu terpesona setiap melihatnya. Namanya Raditya. Perawakannya kurus sedang, kulit bersih, dan ganteng seukuran anak kecil saat itu. Hampir setiap pagi aku berangkat ke sekolah bersamanya dan dibonceng di jok belakang motor Ayahnya. Karena dia selalu tidak mau duduk di belakang. Dia lebih suka untuk duduk di depan, bertengger di atas tank motor.  Entah apa yang kurasa saat itu, tapi setiap dia datang menjemputku bersama Ayahnya rasanya senang sekali hatiku. Aku akan dengan setia menunggu di depan rumah sampai mereka datang. Tapi, ada hal lain yang menggangguku. Raditya adalah seorang yang ceria di sekolah, namun setiap dia datang menjemputku dia seolah cuek dan hanya memandang lurus ke depan tanpa melihatku sekali pun. Hingga beberapa waktu kemudian baru aku tahu penyebabnya.

***

bersambung..





Komentar

Postingan Populer