Ini cerita sepatu-sepatuku ^o^


Ini cerita sepatu-sepatuku ^o^


Sekitar beberapa tahun lalu, tepatnya saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar, aku memiliki dua pasang sepatu merk Bata. Satu berwarna hitam dan satu berwarna putih. Kedua pasang sepatu itu aku pakai bergantian. Jadi, 1 minggu pertama menggunakan sepatu hitam dan minggu berikutnya sepatu warna putih. Yaa, aku memang suka dengan keseimbangan sejak kecil dan aku menyebutnya ‘keadilan’. Hehehe.. Ada cerita tentang sepatuku yang lain. 

Cerita di atas adalah ketika aku masih tinggal bersama dengan budhe dan pakdhe kesayanganku. Mereka mempunyai kehidupan yang berkecukupan, pakdheku adalah seorang PNS di Departemen Keagamaan (DEPAG) dan budheku memiliki sebuah took merangkap warung makan yang cukup terkenal di Bengkulu Utara. Aku sudah dianggap sebagai anak mereka sendiri karena aku dan ibuku sudah tinggal bersama mereka sejak aku bayi, sejak bapakku meninggal karena liver ibuku diboyong budheku ke Sumatra dan membantu usaha budheku di sana. 

Selama 8 tahun bersama pakdhe dan budheku aku semua kebutuhanku tercukupi, tapi setelah ibuku memutuskan untuk kembali ke Jawa berubahlah pola hidup kami. Ibuku memang mempunyai tabungan untuk kami hidup dan modal ibuku membuka warung, tapi lama-kelamaan kami pun harus berhemat. Kami hidup sederhana dan aku tidak pernah mengeluh karenanya. Perihal sepatu pun aku harus nrimo alias nerima apa adanya yang berusaha diberikan untukku. Pernah saking senangnya dapat sepatu baru sampai tidur pun aku keloni sepatu baruku itu. Hehehe.. Selain itu, pernah pula sewaktu SMA aku memakai sepatu kakak sepupuku. Padahal sepatu itu ukurannya 39 dan ukuran kakiku hanya 36. Hahaha.. Tapi, aku menyukai sepatu itu karena itu merk sepatu yang cukup terkenal dan banyak pemakainya saat itu dan awet sekali sepatunya. Pernah juga aku memiliki sepatu kets yang kupakai naik gunung untuk pertama kalinya. Karena sepatu itu murahan dan tidak cocok untuk naik gunung, sesampainya dari gunung sepatu itu masuk tempat sampah. -__-

Yaah, pada dasarnya aku punya banyak sekali sepatu loh. Tapi, bukan karena aku kaya. Aku punya banyak sepatu yang semuanya murahan dan tidak awet. Hehehe.. Aku tidak memiliki sepatu favorit karena pada dasarnya aku menyukai berjalan menggunakan sandal jepit daripada bersepatu. Tapi, aku pun pernah mendamba sepatu-sepatu bagus yang dipajang di toko-toko sepatu. Hanya saja terkadang aku urung membelinya karena harganya yang selangit dan pikiran bahwa sepatu itu tempatnya di kaki kenapa harganya mahal sekali padahal untuk diinjak-injak. Hehehe.. Mungkin benar jika pak Dahlan Iskan menenteng sepatunya. Biar awet sepatunya jadi jangan dipakai saja. Hmmm.. 

Namun, beberapa hari lalu aku sadar oleh perkataan seseorang bahwa sepatu yang mahal itu tahan lama dipakai tidak seperti sepatu murah yang hanya sebentar sudah tidak bisa dipakai lagi. Selain itu, aku juga pernah mendengar pepatah, “Milikilah sepasang sepatu untuk mengantarkanmu ke tempat mana pun yang kamu inginkan.”  Jadi, meski sekarang sudah bekerja aku tetap ingin nabung dulu untuk beli sepatu baru yang mahal tapi awet dan benar-benar jadi favoritku itu kelak. Amien. :D




Komentar

  1. Apik apik.. tapi kalo kata ibuku "apapun sepatunya, bayangannya tetap sama" tapi jangan dnegarkan ibuku den.. :P

    BalasHapus
  2. Ohohoohho.. bener juga lho mbak. Apapun sepatunya orangnya ya tetep gitu2 aja. :D

    BalasHapus
  3. Bwuahahaha... aku suka pas bagian ngeloni sepatu itu. :D

    BalasHapus
  4. Itu serius lho mbak. Kecilku itu aneh (gedhenya juga sih :p)hihihi..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer